Minggu, 06 Desember 2020

JURNAL PERCOBAAN 10 ISOLASI SENYAWA P-METOKSI SINAMAT DARI KENCUR (KAEMFERIAM GALNGA L)

 JURNAL PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK II


DISUSUN OLEH :

VIKA SEPUTRI

(A1C118086)

 

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020

 

PERCOBAAN X

       I.            Judul                 : Isolasi Senyawa P-Metoksi Sinamat Dari Kencur (Kaemferiam Galnga L)

    II.            Hari, Tanggal   : Kamis, 10 Desember 2020

 III.            Tujuan              : Adapun tujuan dari percobaan kali ini, yaitu :

  1. Dapat menguasai teknik-teknik isolasi bahan alam khususnya senyawa fenilpropanoid.
  2. Dapat mengenal sifat-sifat kimia fenil propanol melalui reaksi-reaksi pengenalan yang spesifik.

 IV.            Landasan Teori

    Kencur adalah tanaman tropis yang banyak tumbuh dikebun, pekarangan rumah dan digunakan untuk bumbu dapur dan termasuk salah satu tanaman obat tradisional Indonesia. Senyawa kimia terkandung didalamnya adalah : etil p-metoksi sinamat,etil sinamat komponen yang utama, p-metoksistiren dll. Kadar etil p-metoksinamat dalam kencur cukup tinggi bisa mencapai 10% karena itu dengan mudah bisa di isolasi dari umbinya menggunakan pelarut petroleum atau etanol. Biasanya ekstraksi digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa organic dari campurannya. Ragam ekstraksi ini bergantung pada tekstur dan kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi dan pada jenis senyawa yang diisolasi (Tim Kimia Organik II, 2020).

    Etil p-metoksi sinamat merupakan komponen utama yang dimiliki oleh pusat-pusat reaktif yang potensial untuk reaksi-reaksi kimia, antara lain ikatan rangkap terkonjugasi, cincin aromatic yang diaktifkan oleh gugus metoksi dan gugus fungsi ester. Karena itu dapat dilakuka beberapa reaksi antara lain : hidrolisa ester, demetilasi, transformasi ester menjadi gugus lain. Khusus untuk hidrolisa etil p-meyoksi sinamat ini menghasilkan asam-p metoksi sinamat (Hart, 2014).

    Menurut Dadi dalam Pratiwi (2018), mengatakan bahwa rimpang kencur juga digunakan sebagai penghilang bau badan dan merawat kulit yang mengalami iritasi, selain itu tepung rimpang kencur memiliki salah satu kandungan senyawa Ethyl P-Methoxycinnamate (EPMS) adalah salah satu senyawa isolasi kencur yang merupaka bahan dasar pelindung kulit dari sengatan sinar matahari , rimpang kencur diolah menjadi tepung rimpang kencur dan digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kosmetik sebagai campuran atau bahan tambahan dala pembuatan kosmetik.

    Senyawa etil p-metoksi sinamat adalah turunan sinamat yang berasal dari jalur biosintesis asam sinamat dan memiliki rangkap karbon C6-C3. Dialam turunan sinamat terdapat dalam bentuk ester atau glikosidanya. Etil P-metoksi sianamat terdapat dalam bentuk ester berwujud padatan Kristal berwarna putih kekuningan dan mempunyai bau khas aromatis yang sangat kuat. Analisis karakteristik serbuk Kristal etil P-metoksi sinamat kromatografi lapis tipis dengan eluen methanol dan aseton. Hasil analisis KLT  dengan fase gerak methanol: aseton (2:1) menunjukkan bahwa senyawa p-metoksi sianamat m nilai RF 0,68 (Nirmala, 2017).

    Etil p-metoksisinamat merupakan senyawa hasil isolasi kencur yang senyawa dasr dari tabir surya yaitu pelindung kulit dari sengatan sinar matahari. Etil p-metoksisinamat merupakan senyawa ester yang mengandung cincin benzene dan gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat, methanol, air dan heksana (Nurlita, 2004).

    V.            Alat dan Bahan

  • Alat  
  1. Erlenmeyer 250ml
  2. Kertas saring
  3. KLT
  4. Penangas air
  5. Corong Buchner
  6. Labu bulat
  7. Corong biasa
  8. Evavorator
  9. Alat ukur TI
  • Bahan
  1. Kencur yang telah ditumbuk
  2. Kloroform 
  3. Etanol
  4. NaOH
  5. Methanol
  6. Asam sulfat klorida

 VI.            Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja pada percobaan ini adalah yaitu sebagai berikut :

  • Isolasi Etil p-Metoksi Sinamat
  1. Dimasukkan serbuk kencur kedalam Erlenmeyer 250ml.
  2. Direndam dengan 100ml klorofrom.
  3. Dihangatkan pada penangas air sambil digoyang-goyang
  4. Dibiarkan selama setengah jam pada temperature kamar kemudian saring.
  5. Dipisahkan residu kencur dan ulangi perkolasi sekali lagi menggunakan pelarut dengan jumlah yang sama.
  6. Diperoleh filtrate kemudian digabung dan dipekatkan dibawah tekanan rendah (evavorator)  sampai volume larutan kira-kira setengahnya.
  7. Didinginkan larutan pekat dalam air es, padatan yang terbentuk disaring dengan corong Buchner, filtrate dipekatkan sekali lagi dan padatan yang kedua setelah disaring digabung kemudian ditimbang.
  8. Dihitung rendemennya! Reksistalisasi dilakukan dalam klorofrom.kemudian diukur titik lelehnya dan bandingkan dengan literature (45-50ºC).
  • Pemeriksaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
  1. Dilarutkan sampelkristal hasil isolasi dalam petroleum eter menggunakan kapiler ditotolkan pada plat KLT ukuran 2x5 cm.
  2. Digunakan etil p-metoksi sinamatdan asam p-metoksi sinamat standar sebagai pembanding pada  jarak 0,5 cm dari bawah.
  3. Dimasukkan dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan eluen kloroform , pengamatan
  4. bercak dilakukan dengan melihatnya dibawah lampu UV atau dimasukkan kedalam chamber iodium.
  5. Dihitung rf-nya dan dibandingkan dengan standar
  • Pemeriksaan Spektroskopi Ultra Violet
  1. Dilarutkan Kristal hasil isolasi dalam methanol.
  2. Dibuat spectrum ultra violetnya pada daerah panjang gelombang 200-300 nm.
  • Pemeriksaan Spektroskopi Infra Merah
  1. Dibuat pellet Kristal hasil isolasi dengan KBr kering
  2. Dibuat spectrum infra merahnya.

PERMASALAHAN

  1. Pada isolasi p-metoksi sinamat ini bahan pokok yang digunakan adalah kencur yang telah dikeringkan, mengapa kita menggunakan kencur yang dikeringkan, apakah boleh kita mengganti kencur yang dikeringkan secara alami dengan kencur instan yang dijual dipasaran? 
  2. Mengapa pada reaksi hidrolisis etil p-metoksi sinamat dilakukan dalam suasana basa kenapa tidak di lakukan dalam suasana asam, tolong jelaskan hal tersebut! 
  3. Mengapa proses perkolasi dilakukan sebanyak dua kali, bagaimana apabila kita hanya melakukan proses perkolasi itu satu kali saja atau tidak sama sekali kita lakukan proses perkolasi apa yang akan terjadi ?

LAPORAN PERCOBAAN 9 ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM (FLAVONOID)

 LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK II 

    

DISUSUN OLEH :

VIKA SEPUTRI

(A1C118086)

 

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020

 

DATA PENGAMATAN

NO

PERLAKUAN

TUJUAN

HASIL

1

Sampel bubuk kunyit dibungkus dikertas saring dan diikat dengan benang

Untuk dilakukan nya ekstraksi

 

Kertas saring yang diikat telah berisi bubuk kunyit

2

Dirangkai alat sokletasi dan diletakkan labu bulat diatas mantel, tabung soklet diatas labu bulat. Kemudian, ditambahkan batu didih, dimasukkan kunyit yang telah dibungkus tadi dan pasang termometer

Untuk dilakukannya proses ekstraksi dengan metode sokletasi. Ditambahkan batu didih untuk meratakan proses pemanasan

Alat terpasang dengan baik.

 

3

Ditambahkan pelarut etanol, dipasang kondensor, selang masuk-keluar air lalu hidupkan keran air. Kemudian, dihidupkan heating mantel

 

Etanol digunakan sebagai pelarut

 

Beberapa menit pertama dihasilkan warna larutan yaitu kuning muda, setelah beberapa menit berikutnya warna larutan menjadi kuning ke orange an.

4

Dilakukan ekstraksi selama 2 jam

 

Untuk didapatkan hasil ekstrak kurkumin yang murni

Dihasilkan larutan warna kuning muda

 

5

Setelah itu , pindahkan ekstrak tersebut ke cawan porselin dan ditambahkan Pb asetat berlebih kemudian ditambahkan asam sulfat

Ditambahkan Pb asetat agar terbentuk endapan.

 

Endapan bagian bawah ekstrak berubah berwarna merah

6

Dilakukan evaporasi

 

Untuk dilakukan pengeringan pada ekstrak

 

Ekstrak menjadi kering dan dibagian pinggir cawan porselin terdapat ekstrak yang menempel

7

Diteteskan dietil eter dan dibiarkan kering pada suhu ruang.

 

Diteteskan dietil eter untuk melarutkan ekstrak yang menempel dicawan porselin dan dikeringkan untuk memperoleh endapan kurkumin.

Didapatkan endapan kurkumin berwarna merah kecoklatan

 

PEMBAHASAN

Senyawa flavonoid ialah senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon yang tersusun dalam konfigurasi nya C6-C3-C6 yaitu dimana, ada dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh 3 atom karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga. Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan hijau sehingga ia dapat ditemukan pada setiap ekstrak tumbuhan. Ekstraksi flavonoid secara umum dilakukan menggunakan pelarut polar yaitu seperti etanol karena kebanyakan senyawa flavonoid itu bersifat polar seperti flavonoid glikosida dan aglikon, namun beberapa flavonoid yang kurang polar sebaiknya diekstrak menggunakan etil asetat, eter dan klorofom.

Pada percobaan kali ini, langkah pertama yang kami lakukan yaitu sampel bubuk kunyit dibungkus dikertas saring dan diikat dengan benang, tujuannya yaitu untuk dilakukan nya ekstraksi, dan didapatkanlah hasil yaitu kertas saring yang diikat telah berisi bubuk kunyit. Selanjutnya dirangkai alat sokletasi dan diletakkan labu bulat diatas mantel, tabung soklet diatas labu bulat. Kemudian, ditambahkan batu didih, lalu dimasukkan kunyit yang telah dibungkus tadi dan pasang termometer, adapun tujuannya yaitu untuk dilakukannya proses ekstraksi dengan metode sokletasi. Setelah itu ditambahkan batu didih untuk meratakan proses pemanasan, maka alat tadi terpasang dengan baik. Langkah selanjutnya ditambahkan pelarut etanol, dipasang kondensor, selang masuk-keluar air lalu hidupkan keran air. Kemudian, dihidupkan heating mantel, maka didapatkanlah hasilnya yaitu beberapa menit pertama dihasilkan warna larutan yaitu kuning muda, setelah beberapa menit berikutnya warna larutan menjadi kuning ke orange an.

Pada langkah selanjutnya dilakukan ekstraksi selama 2 jam, tujuannya yaitu untuk didapatkan hasil ekstrak kurkumin yang murni, didapatkanlah larutan berwarna kuning muda. Setelah semua selesai maka pindahkan ekstrak tersebut ke cawan porselin dan ditambahkan Pb asetat berlebih kemudian ditambahkan asam sulfat, tujuan ditambahkan Pb asetat agar terbentuk endapan. Maka hasil yang didapatkan yaitu endapan bagian bawah ekstrak berubah berwarna merah. Kemudian dilakukan evaporasi, dengan tujuan untuk dilakukan pengeringan pada ekstrak, maka di dapatkan hasilnya yaitu ekstrak menjadi kering dan dibagian pinggir cawan porselin terdapat ekstrak yang menempel.

Pada langkah terakhir diteteskan dietil eter dan dibiarkan kering pada suhu ruang. Diteteskan dietil eter dan dibiarkan kering pada suhu ruang ini tujuan nya yaitu untuk melarutkan ekstrak yang menempel dicawan porselin dan dikeringkan untuk memperoleh endapan kurkumin, maka didapatkanlah hasil akhirnya yaitu endapan kurkumin berwarna merah kecoklatan.

KESIMPULAN

Dari percobaan di atas dapat di kesimpulkan bahwa :

  1. Teknik-teknik isolasi bahan alam khususnya flavonoid yakni ekstraksi. Ekstraksi yang dipakai ialah mas rasi yang menggunakan teknik ekstraksi dari sampel padat (simplisia) dengan menggunakan pelarut yaitu seperti etanol.
  2. Sifat kimia flavonoid yaitu antara lain dapat larut pada pelarut seperti etanol maupun metanol (polar), bersifat asam hingga larut dalam bahasa dapat membuat warna spesifik (reaksi warna) dengan ekstraksi.

PERTANYAAN PASCA

  1. Pada percobaan ini, ekstraksi dilakukan selama 2 jam. Bagaimana jika dilakukan kurang dari 2 jam, apa pengaruh pada hasil akhirnya?
  2. Pada data pengamatan dikatakan bahwa menggunakan Pb asetat berlebih. Jelaskan mengapa harus menggunakan Pb asetat berlebih, apa fungsinya pada percobaan ini?
  3. Dikatakan pada penjelasan diatas, pada percobaan ini dilakukan evaporasi. Coba anda jelaskan apa fungsi dari dilakukan nya evaporasi ini, dan bagaimana tahap ini jika tidak dilakukan?

DAFTAR PUSTAKA

Lenny, S. 2006. Senyawa Flavanoida, Fenilpropanida dan Alkaloida, Karya Ilmiah Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara.

Rahayu dkk. 2014. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Secara Tradisional Oleh  Masyarakat Lokal di Pulau Wawoni. Sulawesi Tenggara. Jurnal Biodiversitas Vol.7. No.3

Sarastani, D., Suwarna T., Soekarto, T., Muchtadi, R. 2002. Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Ekstrak Biji Atung. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. Vol. XIII No. 2. 149-156.

Safitri, R. 2004. Sayuran dan Buah-buahan Pencegah Penyakit Jantung. Cakrawala.

LAPORAN PERCOBAAN 13 UJI LEMAK

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II DISUSUN OLEH : VIKA SEPUTRI (A1C118086)   DOSEN PENGAMPU : Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.   ...